Pot Tanah Liat

Apakah akal sehat dibiarkan seperti kita memperhitungkan
bagaimana hidup kita dan alam semesta tercipta?

Para arkeolog akan mengatakan bahwa pot tanah liat merupakan bukti tak terbantahkan bahwa suatu peradaban pernah ada. Tidak seorangpun akan percaya bahwa tanah, atau angina, atau bahan-bahan kimia tertantu secara acak akan bertemu untuk membentuk pot tanah liat itu dan secara tak sengaja terlukis dengan sebuah rancangan padanya. Oranglah yang membuatnya. Jika sebuah pot tanah liat yang sederhana menunjukkan rancangan manusia, apa yang dapat kita simpulkan mengenai sebuah obyek yang dibuat jauh lebih rumit? Contohnya, mata manusia. Mata manusia dapat membedakan sekitar 7 juta macam warna. Mata bergerak 100 000 kali per hari dengan focus otomatis. Dan, mata mengurusi 1,5 juta pesan-pesan secara simultan.

Percayakah kita bahwa sebuah pot tanah liat tidak timbul dari alam, dan mata manusia hanya dating begitu saja dari elemen-elemen di atmosfer? Beberapa orang akan mengatakan bahwa sains mengharuskan sebuah kesimpulan seperti itu, karena mempercayai Tuhan bukanlah hal yang ilmiah. Bagaimana menemukan pot tanah liat dan memulai dengan asumsi bahwa orang tidak pernah berada di tempat tersebut bisa begitu berbeda, sehingga para ilmuwan sekarang harus mencari bagaimana pot tanah liat itu bisa berkembang dari elemen-elemen di tanah atau udara.

Kita diberitahu bahwa menciptakan satu bola mata manusia membutuhkan waktu yang lama. Ada anggapan bahwa ada suatu peluang acak memerlukan waktu yang sangat lama untuk secara sempurna menyusun sesuatu yang rumit.

Jadi, di sini ada sebuah tes. Misalkan ada seseorang membekalimu sebuah kantong plastik penuh onderdil dari sebuah jam tangan, yang sudah saudara pastikan semuanya lengkap. Berapa lama waktu yang saudara butuhkan untuk mengocok tas itu, berharap bahwa bagian-bagaian jam akan rontok dan saling mencocokkan satu sama lain sehingga terbentuk dengan baik? Akan selalu ada kemungkinan bahwa hal itu dapat terjadi. Bayangkan dirimu sendiri dikocok dalam tas itu. Saudara mungkin tidak akan mengocoknya lebih dari 30 detik. Mengapa tidak? Karena akal sehatmu akan mengatakan tidak peduli berapa lama saudara mengocok kantong plastic itu, bagian-bagiannya tidak akan bersatu membentuk sebuah jam tangan yang bisa digunakan dengan baik. Tidak peduli jika saudara mengguncang kantong itu selama satu menit ataupun ribuan tahun.

Hanya karena beberapa argumentasi seperti "mungkin, suatu hari, entah bagaimana, tak sengaja"...haruskan deretan kata-kata alasan itu menggantikan akal sehat? Sama halnya dengan Baju Keluaran Baru dari Emporer, seharusnya tidak ada suatu katapun dalam keramaian mengatakan "Yah, namun hidup yang rumit timbul dari hidup yang sederhana adalah seperti sebuah kesempatan yang ada di luar sana, itu tidak akan membuat lebih masuk akal untuk mecari penjelasan yang lain?"

Bagaimana dengan kemiripan hidup yang ada di bumi? Mungkin saudara sadar mengenai semua kondisi sempurna yang kita perlukan untuk ada di sini: Jarak bumi yang tepat dari matahari, kombinasi sempurna dari gas-gas yang ada di atmosfer kita, kemiringan dan putaran bumi yang sempurna, gaya tari yang sempurna, adanya air, dan sebagainya.

Ahli astrofisika George Smoot menjelaskan bahwa derajad penyetelan yang tepat dibutuhkan agar kehidupan ada di muka bumi adalah sama dengan menembakkan sebatang anak panah dengan segala cara ke planet Pluto (4 miliar mil jauhnya) dan mendapati anak panah itu membutuhkan waktu ratusan tahun untuk sampai.

Saudara suka betaruh? Akankah saudara menang bertaruh jika kemungkinan adalah 5:1 melawanmu? Bagaimana jika kemungkinan itu adalah 6000:1 melawanmu? Jika saudara bertaruh bahwa alam semesta berkembang tanpa seorang Perancang, kemungkinan alam semesta kita terbentuk sendiri adalah 10124:1.

Sekali lagi, hanya karena ada sebuah kemungkinan yang sangat tipis terjadi bahwa semua yang diperlukan jatuh sempurna ketempatnya secara kebetulan, mengapa seseorang yang berkompeten menyimpulkan bahwa hal itu sebenarnya terjadi seperti itu? Jika kemungkinan sebuah pesawat jet sampai dengan selamat ke tujuannya adalah 10124 berbanding 1, siapa yang bersedia naik pesawat itu? Kita sangat layak untuk banyak hal dalam hidup. Kita melihat pot-pot tanah liat itu, juga jam tangan, dan ingin mengatakan bahwa dengan jelas oranglah yang membuatnya, bahkan sekalipun kita tidak melihat orang yng membuatnya. Dapatkah logika yang sama digunakan ketika kita memikirkan tubuh manusia dan alam semesta?

Bukankah keruwetan tubuh manusia dan alam semesta memberikan alas an untuk mengatakan, "Walaupun aku tidak melihatNya, masuk akal untuk menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada"?

Jika tertarik untuk mengetahui pribadi mendasar Tuhan, beginilah caranya: Mengenal Tuhan Secara Pribadi.

Kirim artikel ini

Bagaimana memulai sebuah hubungan dengan Tuhan