Yesus dan Islam

Berikut ini enam pertanyaan yang sering diajukan umat Islam maupun pemeluk agama lain tentang Yesus

Pemaparan ini dilandaskan rasa hormat kepada siapa saja yang ingin tahu tentang Yesus. Bukan tantangan. Juga tidak ada kritik terhadap agama apapun, dalam bentuk apapun.

Berikut ini enam pertanyaan yang dijawab melalui artikel ini:

  1. Apakah keaslian Alkitab telah diubah?
  2. Apakah Allah mengatakan bahwa satu agama akan menggantikan yang lain: Yudaisme digantikan Kekristenan, kemudian digantikan Islam?
  3. Bukankah suatu penghinaan mengatakan bahwa Allah memiliki anak?
  4. Benarkah Yesus mati disalibkan?
  5. Jika Yesus mati di kayu salib, apakah Allah juga mati selama tiga hari?
  6. Mengapa tidak memandang Yesus sebagai nabi saja?

1. Apakah Alkitab itu Firman Allah? Atau sudah diubah atau dikurangi berkali-kali?

Sebagai pendahuluan, berikut adalah beberapa pernyataan di dalam Alkitab: “Sebelum langit dan bumi lenyap, satu titik atau satu huruf terkecil pun dari Kitab Suci Taurat tidak akan ditiadakan sampai semuanya digenapi.”1

Firman Allah tidak akan lenyap. Semua yang tertulis di dalamnya pasti akan digenapi. Lagi-lagi dinyatakan “Langit dan bumi akan berlalu tapi Firman-Ku tidak akan berlalu.”2

Juga, “Semua tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar,menegur, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran."3 Seluruh kitab Injil diilhami oleh Allah.

Dan, “rumput menjadi kering dan bunga menjadi layu, tetapi Firman Tuhan kita tetap untuk selama-lamanya.”4

Kita perlu bertanya pada diri sendiri “Mampukah Allah melindungi Firman-Nya? Mampukah Allah membuktikan bahwa Firman-Nya tidak akan berlalu, tidak akan pernah tidak tergenapi?”

Mampukah Allah? Tentu saja Dia mampu. Ini perkataan-Nya bagi semua orang. Dengan mengatakan bahwa Dia tidak bisa menjaga Firman-Nya sehingga bisa diubah-ubah, berarti kita sedang menuduh Allah.

Tidak ada yang diubah. Itu rumor semata.

Qur’an tidak mengatakan Injil telah diubah. Justru ebaliknya. Qur’an menghormati kitab Taurat dan Alkitab. Qur’an juga banyak kali menyebut Taurat dan “Zabur” (Perjanjian Lama dan Mazmur) dan “Injil” (Perjanjian Baru)

Ketika Islam dimulai pada abad ke-7, 600 tahun setelah jaman Yesus Kristus, Alkitab diterima sebagai kebenaran. Jadi mungkin Saudara bertanya, apakah Alkitab telah diubah sejak abad ke-7? Tidak. Yang perlu dilakukan adalah membandingkan Alkitab masa kini dengan yang ditulis di waktu lampau.

Kita bisa menemukan Alkitab secara lengkap di tahun 300, ratusan tahun sebelum Qur’an. Saudara bisa menemukan satu di Museum London, di Vatican dan banyak lagi tempat lainnya. Jika Saudara membandingkannya dengan Alkitab masa kini, akan sama.

Tahukah Saudara bahwa saat ini ada hampir 25.000 salinan bagian-bagian Perjanjian Baru yang ditulis tangan? Ketika para sejarawan membandingkan naskah-naskah ini, mereka menyimpulkan bahwa Perjanjian Baru yang kita miliki saat ini setidaknya 99,5% akurat dengan aslinya. Tidak ada perubahan. (5% perbedaannya hanya pada pengejaan, tapi tidak mengubah maknanya.)

Mungkin juga terdengar akrab di telinga Saudara tentang temuan arkeologis Dead Sea Scrolls (Gulungan-gulungan Laut Mati). Gulungan ini ditemukan di gua Qumran, sebelah barat Laut Mati. Para peneliti telah membandingkan Alkitab yang kami miliki sekarang dengan yang mereka temukan,hasilnya tetap sangat mirip, hampir 100% identik. Tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa Perjanjian Baru atau Alkitab telah diubah dari salinan aslinya. Secara historis itu tidaklah akurat.

Alkitab tidak pernah diubah.

Ok, lalu bagaimana dengan ke empat Injil? Bukankah ke empat kitab ini berbeda satu sama lain?

Ya, ada empat Injil dalam Perjanjian Baru: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Sebenarnya kitab-kitab ini justru menolong menunjukkan bahwa Alkitab tidak pernah dipalsukan. Ada empat saksi, empat pengisahan kehidupan Yesus, apa yang Dia katakan dan lakukan.

Bayangkanlah jika ada satu atau dua, atau katakanlah empat orang yang menyaksikan sebuah kecelakaan mobil di sudut jalan. Dan masing-masing mereka diminta untuk menuliskan kesaksian mereka di pengadilan. Menurut Saudara apakah keempat orang ini akan menggambarkan kejadian tersebut persis sama, kata demi kata? Tentu saja tidak. Masing-masing akan menuliskan sesuai dengan pemandangan yang mereka lihat. Dan inilah yang terjadi ketika setiap saksi ini bercerita sebagai saksi mata tentang kehidupan Yesus.

Selama berabad-abad sistem peradilan menggunakan saksi. Dan, untuk hal yang benar-benar penting, perkataan satu orang saja tidaklah cukup. Seringkali dibutuhkan lebih dari satu saksi. Beginilah sebuah pernyataan dalam Perjanjian Baru yang mengutip dari Perjanjian Lama, “Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.”5

Tidak hanya empat saksi tentang Yesus yang menulis Injil, melainkan banyak saksi. Yakobus, Paulus, Yudas, Petrus dan lainnya juga menulis sisa kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Yohanes berkata, “[Kami menulis] yang telah kami lihat, dengan mata kami, yang telah kami raba.”6 Mereka adalah saksi mata Yesus. Jadi mereka menulis apa yang mereka lihat.

Bagaimana dengan semua terjemahan bahasa yang ada di Alkitab?

Alkitab ditulis dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Setiap Alkitab, tahun berapapun pencetakannya, merupakan terjemahan dari bahasa aslinya yaitu Ibrani dan Yunani. (Sebagai contoh, Alkitab tidak pernah diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Inggris versi lainnya. Semuanya selalu dimulai dari teks aslinya).

Ada beberapa Alkitab yang merupakan tafsiran, bukan terjemahan. Kitab-kitab ini diidentifikasi sebagai tafsiran. Bagaimanapun, terjemahan hanya diterjemahkan dari apa yang tertulis dalam teks bahasa Ibrani dan Yunani.

Alkitab Ibrani dan Yunani telah diterjemahkan kedalam ribuan bahasa. Mengapa demikian? Sebab Allah menghendaki setiap orang di dunia ini mendengar Kabar Baik tentang penyaliban.

Dan Alkitab tidaklah sulit untuk diterjemahkan. Memang beberapa kitab dalam Alkitab yang puitis (Amsal, Kidung Agung, Mazmur). Tetapi inti dari Alkitab itu sendiri sangat sederhana dan berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari. Ini tidaklah sulit untuk diterjemahkan. Faktanya, Alkitab itu apa adanya dan sederhana. Ini adalah alasan lain mengapa Alkitab layak dipercaya.

Ini adalah sebuah kisah nyata.

“Anakku menelponku pada suatu hari. Dia sedang berada di negara lain, di tengah-tengah jalan raya besar, dalam sebuah kecelakaan mobil. Mobilnya ditabrak mobil lain dan berputar 180 derajat, mogok di tengah jalan di arah yang berlawanan.

Dia berkata, “Ayah, aku baik-baik saja. Tetapi apa yang harus kulakukan sekarang?”

Dia sedang dalam masalah dan membutuhkan pertolongan. Menurut Saudara, tepatkah jika saya mengirimkan pesan yang puitis padanya disaat seperti ini? Sebuah puisi yang telah saya hafalkan? Tidak.
Ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan, “John, ini yang harus kamu lakukan. Kau sedang dalam masalah dan beginilah caranya mengatasinya.” Begitulah inti pesan di Alkitab. Manusia sedang dalam masalah, menuju kebinasaan. Karena semuanya telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dan yang kita butuhkan adalah pesan sederhana tentang penyaliban. Alkitab mengatakan bagaimana caranya agar kita diampuni, bagaimana kita dibawa kepada hubungan yang dekat dengan Allah dari sekarang sampai selama-lamanya. Ini adalah pesan yang mengubah hidup kita.

2. Apakah Allah mengatakan bahwa satu agama akan menggantikan yang lain: Yudaisme digantikan Kekristenan, kemudian digantikan Islam?

 Saya ada pertanyaan...
 Bagaimana memulai sebuah hubungan dengan Tuhan

(1) Matthew 5:18 (2) Matthew 24:35 (3) 2Timothy 3:16 (4) Isaiah 40:8 (5) 2Corinithians 13:1 (6) 1John 1:1

BAGIKAN ARTIKEL INI:  

TOP